Sejarah Ikan Maskoki
Sejarah Ikan Mas Koki.
Ikan mas hias (Carassius auratus auratus)
adalah ikan air tawar dari familia Cyprinidae dan ordo Cypriniformes. Ikan ini adalah salah satu ikan yang pertama kali berhasil didomestikasi, dipelihara, dan dibudidayakan manusia. Kini ikan mas hias atau kadang disebut secara singkat sebagai ikan mas, adalah salah satu ikan hias akuarium yang paling populer. Varietas Carassius auratus auratus yang telah didomestikasi dan menampilkan mutasi tubuh bersirip ekor ganda dan berbentuk memampat bulat disebut ikan maskoki.
![]() |
| Lukisan gulung Kin Yu atau ikan mas, Tiongkok, tahun 1772 |
Di Indonesia istilah "ikan mas" juga merujuk kepada ikan mas biasa atau "ikan karper" (Cyprinus carpio), yaitu kerabat ikan yang dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan.
Sejarah dan evolusi
Pemeliharaan ikan mas dimulai di Tiongkok Kuno sejak ribuan tahun lalu. Beberapa spesies ikan mas (secara umum dikenal sebagai "ikan mas Asia") mulai didomestikasi dipelihara sebagai sumber pangan melalui akuakultur. Secara alami di alam, ikan-ikan ini berwarna kelabu atau perak, akan tetapi beberapa jenis memiliki kecenderungan untuk mengalami mutasi warna dengan menghasilkan warna merah, jingga, atau kuning. Fenomena ini pertama kali dicatat pada periode Dinasti Jin (265–420).
Pada masa Dinasti Tang (618–907), kebiasaan dan tren memelihara ikan mas sebagai ikan hias di kolam dan taman air menjadi populer. Mutasi genetik pada ikan mas yang didomestikasi manusia menghasilkan warna emas (tepatnya jingga kekuningan), sedangkan di alam ikan ini biasanya hanya menampilkan warna kelabu-perak. Hal ini terjadi karena di alam bebas, mutasi yang menghasilkan warna kuning-jingga ini jarang muncul, karena ikan dengan warna mencolok seperti ini mudah diburu pemangsa ikan dengan kamuflase sesuai alamnyalah yang bertahan hidup. Orang Tiongkok mulai membiakkan dan membudidayakan varietas ikan berwarna emas daripada ikan yang berwarna keperakan, memeliharanya di kolam daripada membiarkannya di sungai atau danau. Pada kesempatan khusus ketika akan menerima kunjungan tamu, ikan mas ini dipindahkan dari kolam ke dalam wadah yang lebih kecil agar dapat dipamerkan kepada tamu.
Pada masa Dinasti Tang (618–907), kebiasaan dan tren memelihara ikan mas sebagai ikan hias di kolam dan taman air menjadi populer. Mutasi genetik pada ikan mas yang didomestikasi manusia menghasilkan warna emas (tepatnya jingga kekuningan), sedangkan di alam ikan ini biasanya hanya menampilkan warna kelabu-perak. Hal ini terjadi karena di alam bebas, mutasi yang menghasilkan warna kuning-jingga ini jarang muncul, karena ikan dengan warna mencolok seperti ini mudah diburu pemangsa ikan dengan kamuflase sesuai alamnyalah yang bertahan hidup. Orang Tiongkok mulai membiakkan dan membudidayakan varietas ikan berwarna emas daripada ikan yang berwarna keperakan, memeliharanya di kolam daripada membiarkannya di sungai atau danau. Pada kesempatan khusus ketika akan menerima kunjungan tamu, ikan mas ini dipindahkan dari kolam ke dalam wadah yang lebih kecil agar dapat dipamerkan kepada tamu.
Pada masa Dinasti Song (960–1279), upaya domestikasi ikan mas telah mantap. Pada 1162, seorang ratu Dinasti Song memerintahkan pembangunan kolam-kolam untuk mengumpulkan ikan mas varietas berwarna merah dan kuning. Pada kala itu masyarakat umum di luar keluarga kerajaan dilarang untuk memelihara ikan mas dari varietas warna emas (kuning), karena warna kuning adalah warna kekaisaran Tiongkok. Mungkin karena hal inilah kini lebih banyak terdapat ikan mas warna jingga dan merah ketimbang warna kuning, meskipun sebenarnya secara genetik ikan mas warna kuning lebih mudah dibiakkan.
Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), ikan mas hias mulai dipelihara dalam ruangan, hal ini mengarah kepada seleksi mutasi genetik yang menyebabkan beberapa varietas ikan ini tidak dapat bertahan hidup di kolam luar ruang. Munculnya warna lain (selain warna merah dan emas) pertama kali dicatat pada 1276. Kemunculan ikan pertama berekor ganda yang indah pertama kali dicatat pada masa Dinasti Ming. Pada tahun 1603, ikan mas hias diperkenalkan ke Jepang, di mana varietas Ryukin dan Tosakin dikembangkan. Pada 1611, ikan mas hias diperkenalkan ke Portugal dan dari sana menyebar ke bagian-nagian lain di Eropa.
Pada tahun 1620-an, ikan mas hias disukai dan dianggap bergengsi di Eropa karena sisik kuning metaliknya bagai emas yang melambangkan keberuntungan. Pada saat itu adalah menjadi tradisi bagi seorang suami untuk memberikan hadiah ikan mas hias pada ulang tahun perkawinannya yang pertama, sebagai lambang kemakmuran pada tahun-tahun kebersamaan mendatang. Tradisi ini kemudian menghilang akibat ikan mas hias kian murah dan mudah didapatkan, sehingga kehilangan status dan gengsinya. Ikan mas hias mulai diperkenalkan ke Amerika Utara sekitar tahun 1850 dan segera populer di Amerika Serikat
Spesies kerabat
Di Tiongkok, ikan mas dibiakkan dari ikan karper prusia (Carassius auratus gibelio), dan secara genetik merupakan kerabat terdekat ikan mas yang masih liar di alam bebas.
![]() |
| Carassius auratus gibelio |
| Carassius carassius |
Varietas
Pembiakan selektif selama berabad-abad telah menghasilkan beberapa warna. Beberapa varietas berwarna sudah demikian berbeda jauh dari warna keemasan dari ikan leluhur aslinya. Terdapat pula perbedaan dalam bentuk tubuh, sirip, dan konfigurasi mata. Beberapa varietas ekstrem hanya dapat bertahan hidup jika dipelihara di dalam akuarium, karena mereka lebih rapuh daripada varietas yang masih dekat dengan leluhurnya yang berasal dari ikan liar. Akan tetapi beberapa varietas lebih tangguh, misalnya varietas Shubunkin. Kini, terdapat sekitar 300 ras (varietas) ikan mas hias di Tiongkok. Kebanyakan ras ikan mas yang ada kini dibiakkan dan berasal dari Tiongkok,sementara beberapa varietas dikembangkan di Jepang. Di Indonesia, varietas ikan mas hias berekor ganda dan bertubuh bulat disebut ikan mas koki atau maskoki.



Komentar
Posting Komentar